Nyalakan Gerakan Bersama untuk Lingkungan, Yuk! Bergerak Bersama Polairud Polres Bima Kota

Iklan

.

Nyalakan Gerakan Bersama untuk Lingkungan, Yuk! Bergerak Bersama Polairud Polres Bima Kota

Sabtu, 29 Februari 2020
Kasat Polairud Polres Bima Kota IPDA Syarifuddin Bersama Babinsa Dara, Bhayangkara Pembina Kelurahan Dara, Masyarakat Pesisir Menanam 200 Bibit Pohon Mangrove di Kawasan Pantai Amahami Kelurahan Dara Kota Bima, Sabtu (29/2/2020).


Kota Bima, Kiprah.Berita11.com— Degradasi lingkungan yang dimulai dari masalah hutan, tingkat hulu hingga hilir menjadi ancaman serius bagi umat manusia. Secara global masalah lingkungan seperti ancaman sampah dan global warming juga erat efeknya terhadap kondisi ekonomi global seperti PDRB. Masalah lingkungan menjadi salah satu atensi serius Satuan Polisi Air Udara (Polairud) Kepolisian Resor (Polres) Bima Kota yang bergerak untuk lingkungan.

Sebagai upaya untuk menyikapi berbagai persoalan lingkungan itu, Satuan Polairud Polres Bima Kota bersama masyarakat pesisir, nelayan dan didampingi Babinsa Kelurahan Dara Pelda Zulkarnain serta Bhabinkamtibmas Dara, Bripka Ramli menanam 200 pohon mangrove di kawasan Pantai Lawata Amahami Kelurahan Dara Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima, Sabtu (29/2/2020).

Kapolres Bima Kota AKBP Haryo Tejo Wicaksono S.I.K SH melalui Kasubbag Polres Bima Kota AKP Hasnun menjelaskan, penanaman 200 bibit mangrove merupakan kegiatan Polri Peduli Penghijauan Pantai dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir.  


Kasat Polairud Polres Bima Kota, IPDA Syarifuddin menjelaskan, kegiatan tersebut untuk mencegah intrusi air laut intrusi laut merupakan peristiwa perembesan air laut ke tanah daratan.

Dijelaskannya, intrusi laut dapat menyebabkan air tanah menjadi payau, sehingga tidak baik untuk dikonsumsi. Sementara hutan mangrove memiliki fungsi mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau, sehingga dapat mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan.

Mencegah Erosi dan Abrasi Pantai

Dijelaskan IPDA Syarifuddin, erosi merupakan pengikisan permukaan tanah oleh aliran air, sedangkan abrasi merupakan pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak laut. Hutan mangrove memiliki akar yang efisien dalam melindungi tanah di wilayah pesisir, sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air.

Sebagai penyaring alami hutan mangrove, biasanya dipenuhi oleh akar pohon bakau dan berlumpur. Akar tersebut, dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai. Selain pengurai limbah organik, hutan mangrove juga dapat membantu mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut seperti minyak dan deterjen, dan merupakan penghalang alami terhadap angin laut yang kencang pada musim tertentu.

Hutan Mangrove juga merupakan tempat tinggal yang cocok bagi banyak hewan, seperti biawak, kura-kura, monyet, burung, ular, dan lain sebagainya. Beberapa jenis hewan laut seperti ikan, udang, kepiting dan siput juga banyak tinggal didaerah ini. Akar tongkat dari pohon mangrove, memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove.


Hutan mangrove seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya, mampu menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan berkembang di wilayah daratan. Dalam kurun waktu yang panjang, habitat baru ini dapat meluas menjadi pulau sendiri.

“Mengingat pentingnya peran hutan mangrove dalam kehidupan, mari kita senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan kita,” ajaknya. [B-12]