PICOMS Mengakui STKIP TSB Gaung hingga Internasional Meski Baru Belasan Tahun

Iklan

.

PICOMS Mengakui STKIP TSB Gaung hingga Internasional Meski Baru Belasan Tahun

Selasa, 10 Maret 2020
Kepala Urusan Internasional STKIP Taman Siswa Bima, Ramli M.Pd Berbagi Cerita Tentang Kunjungannya di PICOMS Malaysia kepada Ketua STKIP TSB dan Mahasiswa yang Mengikuti Kultum Rutin Usai Salat Zuhur, Selasa (10/3/2020).


Bima, Berita11.com— Kendati baru belasan tahun berdiri, kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Taman Siswa Bima (STKIP TSB) mencatat kiprah yang luar biasa. Bahkan hingga level internasional.

Program demi program terus dihasilkan dari kampus merah— sebutan untuk STKP TSB, dalam menggenjot target. Tidak hanya dalam negeri, di luar negeri aktivitas kampus yang baru berusia belasan tahun ini berhasil mencuri perhatian, termasuk PICOMS Malaysia yang mengancungkan jempol.

Hal diungkapkan Kepala Urusan Internasional (KUI) STKIP Tamsis Bima, Ramli M.Pd saat menyampaikan kultum salat Zuhur di Masjid Sudirman, Selasa (10/2/2020).

“Waktu kegiatan, meski keadaan kampus kita masih baru, tapi mereka (PICOMS Malaysia, red) mengancungkan jempol. Karena, meski umurnya baru belasan tahun, tapi gaungnya sudah sampai internasional,” ujar Ramli.

Saat kegiaatan di PICOMS Malaysia, Ramli mengaku menjadi sosok yang cerewet, meminta keikutsertaannya pada sejumlah acara yang dihelat. Hal itu dilakukan Ramli agar bisa berpartisipasi dan menggali banyak pengetahuan untuk dibawa pulang.

“Karena hanya satu fakultas yang serupa dengan kampus kita, maka saya harus meminta andil dalam kegiatan kegiatan. Barangkali, saya adalah sosok yang paling sering meminta untuk ikut kegiatan di grup WA itu,” kata Ramli dikutip Humas STKIP TSB.

Ramli mengaku, menjadi sosok cerewek demi mendapatkan banyak pengalaman. “Kami ingin diberikan kegiatan yang lebih banyak. Untuk layanan, sangat diprioritaskan,” ujarnya.

Ia mengatakan, selama 15 hari di Malaysia, tim kampus merah didosorkan agenda padat. Waktu longgar yang dirasanya hanya pada hari pertama dan terakhir. Selama dua pekan, ia menyimpulkan tiga point inti dari budaya kampus di Malaysia.

“Pertama, begitu datang ke sana kami salud pada tingginya kesadaran civitas akademika. Baik dosen.maupun mahasiswa sangat sadar terhadap lingkungan dan telah menjadi kebudayaan. Selama di sana (PICOMS Malaysia, red), kami tidak melihat adanya tukang bersih-bersih di sana,” katanya.

“Ternyata, belakangan kami tahu jika civitas akademika yang ikut menjaga kebersihan,” lanjutnya.

Budaya lain sejumlah kampus di Malaysia yang ditangkap tim kampus merah yaitu saling mengapresiasi dan mendukung (support). Poin tersebut membuat dirinya kaget, karena memiliki sebuah tradisi dan cara yang baik untuk mendukung satu sama lain.

“Ketiga adalah masalah admistrasi. Di Indonesia pada umumnya, jika bisa akan diurus oleh orang dalam. Di sana (Malaysia, Red) tidak memungkinkan untuk dilakukan cara tersebut. Mereka absolud, tidak bisa mengeluarkan sesuatu jika tidak disampaikan dalam satu komando,” katanya.


Pesan yang dingin disampaikannya adalah, berkaitan tingkat kesadaran.

Menurutnya, kesadaran tidak muncul sendiri, namun harus dilatih atau dibiasakan. Apalagi, kampus merah tengah mengaungkan tentang kesadaran. Baik literasi, lingkungan maupun wirausaha. “Kesadaran harus lahir dari dalam diri dan saling support antara satu sama lain,” katanya.

Meski memiliki budaya yang maju berkaitan kepatuhan, kampus di Malaysia mengapresiasi kegiatan kemahasiswaan di Indonesia. Karena, hampir semua kampus di Malaysia tidak memiliki organisasi kemahasiswaan.

“Mereka tidak memiliki organisasi kemahasiswaan. Tapi, mereka saling support (dukung) dan fasilitas yang disediakan terpakai dengan sangat optimal,” katanya.

Terakhir cerita Ramli, masalah admistrasi adalah citra (brand). Misalnya, di sana ada Majelis Permusyarahan Belajar (MPB). “Karenanya, kami meminta pada BEM REMA untuk berbagi sedikit pengetahuan yang didapat di sana,” harapnya.  [B-25/*]