Kisah Sukses Pemuda Runggu, dulu Loper Koran, kini jadi Wartawan

Iklan

.

Kisah Sukses Pemuda Runggu, dulu Loper Koran, kini jadi Wartawan

Rabu, 19 Juni 2019
Wartawan Pelopor Krimsus, Arif Rahman. Foto Ist.


Tak ada jalan pintas menuju Roma. Karena untuk meraih kesuksesan tak sedikit membutuhkan pengorbanan dan kerja keras. Bahkan harus melawan hari-hari getir. Hal itu setidaknya menggambarkan tekad Arif Rahman, mantan loper koran Bima Ekspres yang kini beralih profesi menjadi kuli tinta atau wartawan.

Profesi terbuka sebagai wartawan adalah hal yang kebetulan menarik perhatiannya saat melakoni pekerjaan sebagai loper.

“Dulu masih ingat waktu jadi loper koran, saat masih kuliah. Subuh-subuh saya sudah bangun membagikan koran sebelum orang azan subuh. Bahkan dulu, bos kaget saat lihat saya masih di kantor pada pukul 6 pagi.  Terus ditanya, benaran sudah bagikan koran? Saya bilang sudah. Waktu itu saya membagi waktu antara kuliah dengan kerja sebagai loper,” ujar Arif mengenang saat menjadi loper koran.

Membaca berita di koran yang dibagikan dan melihat cara kerja awak redaksi membuat dirinya kepincut mencoba profesi terbuka tersebut. selama dua tahun lebih ia menjadi loper koran, selama itu pula semangatnya untuk menjadi wartawan kian membara.

“Awal awalnya saya coba ajukan lamaran secara lisan di media. Tapi setelah itu saya menemukan tempat yang cocok di Pelopor Krimsus,” ujar alumnus S1 Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP Bima.

Sikap terbuka dan tutur katanya yang sopan membuatnya mudah diterima dalam komunitas wartawan. Apalagi selama duduk di bangku kuliah pemuda Desa Runggu Kecamatan Belo Kabupaten Bima kelahiran 4 Februari 1993 ini aktif berorganisasi. Salah satu organisasi tempat ia bergabung DPM STKIP Bima. Selain itu, Arif tercatat sebagai Ketua Bidang HMPS Ekonomi. 

“Dulu selesai masa kuliah saya pernah coba cari kerja di luar daerah di Sulawesi. Kerja sebagai sales sepeda motor. Setelah dijalani, malah tidak cocok. Saya ternyata lebih cocok jadi wartawan setelah pulang ke Bima bekerja sebagai wartawan,” ujar pemuda yang sedang menyusun rencana untuk menikah ini.

Baginya, tak ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan. Semuanya harus dijalani secara alami. Prinsip baginya, bahwa wartawan tak sekadar sebagai profesi. Apalagi hanya dimanfaatkan untuk mencari kesalahan orang lain atau mencari keuntungan dari permasalahan yang dihadapi orang lain. Lebih dari itu, profesi wartawan menurutnya, adalah ladang amal, karena wartawan bekerja untuk nilai-nilai kebenaran yang dianut oleh orang banyak.

“Wartawan juga adalah jalan untuk mengumpumpulkan pahala. Kita membantu orang lain melalui pemberintaan. Misalnya menjadi jembatan untuk orang-orang susah dengan menyampaikan informasi kepada pengambil kebijakan atau para pejabat. Misalnya warga miskin butuh uluran untuk pengobatan dan masalah-masalah lain. Kalaupun ada sorotan dari media atau wartawan, itu niatnya untuk hal positif demi perbaikan sebuah masalah,” ujar pria yang juga bertanggungjawab terhadap biaya kuliah adiknya ini. [AD]