Polemik Politik Petahana Terhadap Wabah Pandemik Covid-19

Iklan

.

Polemik Politik Petahana Terhadap Wabah Pandemik Covid-19

Minggu, 05 April 2020


Oleh: Ginanjar Gie



Pengalihan opini dan hegemoni yang berkepanjangan membuat dinamika politik pilkada tidak lagi indah ketika kita melihat dengan kacamata Demokrasi yang Demokratis.

Hipokrasi yang merajalela lahir dari rahim elit dan para politisi hingga menyebabkan kesejahteraan pun hak rakyat terbengkalai. Maka dengan terbengkalainya hak-hak rakyat sepanjang kepemimpinan petahana, mereka cenderung melakukan pencitran dengan cara menyapa masyarakat dengan alibi kunjungan kerja (kunker), atau dengan menawarkan sejumlah proyek fisik maupun bantuan tunai terhadap tempat-tempat peribadatan di tiap daerah yang mereka kunjungi.

Masuk lagi dengan isu Covid-19, masker dan ember berlabel "Lanjutkan" mulai menghiasi dapur-dapur masyarakat, hingga bermunculan bahasa-bahasa tak etis yang dilontarkan oleh lawan politiknya. Memang ini hal biasa dalam dunia perpolitikan, namun ini merupakan hal terburuk dalam demokrasi, karena pencitraan adalah tanda bahwa sistem kepemimpinan sudah amburadul dan tak lagi mampu dipapah, hingga akhirnya berujung pada praktik politik suap menyuap media untuk melancarkan pencitraan demi mengalihkan opini publik.

Seiring berjalannya waktu pula, otokrasi pun mulai diterapkan oleh petahana guna untuk meraih elektabilitas tinggi di kancah Pilkada yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Dan ini menyebabkan wakil yang seharus menjadi pendamping dalam setiap Kunker kini dibantai taringnya agar ia menjadi domba yang akan menuruti titah sang pemilik elektabilitas paling tinggi.

Ini menandakan adanya keserakahan dan praktik tirani dalam kepemimpinan yang seharusnya tidak diterapkan oleh pemimpin di tiap daerah tingkat I maupun tingkat II. Karena memang ini adalah sebuah tindakan yang tak etis digunakan mengingat tujuan dan falsafah diberdirikan Negara dan dipilihnya pemimpin bagi sebuah bangsa adalah untuk mengantar rakyat pada titik kesejahteran bersama atau capain tertingginya pada jiwa dan semangat civil society. (*)