Fitri Marwahdiyanti, Mahasiswi PTI yang Sarat Prestasi Taekwondo dan Hapkido

Iklan

.

Fitri Marwahdiyanti, Mahasiswi PTI yang Sarat Prestasi Taekwondo dan Hapkido

Jumat, 27 September 2019
Mahasiswi PTI STKIP Taman Siswa Bima, Fitri Marwahdiyanti. Menunjukan Medali Emas yang Diraihnya saat Mengikuti Kejurnas. Foto Ist.

Wanita biasanya identik dengan sifat lemah lembut, manja, mandiri, sabar, penyayang dan pemalu. Tak banyak yang bergelut dengan aktivitas berat. Namun perspektif yang melekat itu bisa dipatahkan Fitri Marwahdiyanti, mahasiswi semester V Program Studi Teknologi Informasi STKIP Taman Siswa Bima.

Di luar fitrahnya yang memiliki sifat lembut, tak menghalangi wanita kelahiran Sukoharjo, 23 Juni 1998 silam ini untuk berprestasi pada bidang olahraga. Sejak duduk di bangku kelas VII SMP,  alumnus SMAN 1 Woha ini sudah menekuni olahraga dari negeri gingseng Korea, Taekwondo.

Yeop jireugi, chi jireugi, dolryeo jireugi, pyojeok jireugi, momtong jireugi, are jireugi dan setumpuk pukulan, sabetan, tusukan, tendangan dan tangkisan serta berbagai teknik Taekwondo tak perlu ditanyakan lagi pada mahasisiwi ini. Beberapa kejuaraan taekwondo pernah diikutinya dan meraih prestasi bergengsi.

Beberapa kejuaraan dan prestasi yang diraihnya mulai dari kategori kyorugi dan poomse yaitu Kyorugi Junior Putri Under 40 Kg, Kejurda di Mataram tahun 2012, Juara 3 Poomsae Junior Individual Putri, Kejurda Sumbawa tahun 2013, Poomsae Junior Beregu Putri, Pekan Olahraga Provinsi NTB di Mataram tahun 2014, Poomsae Junior Individual Putri, Kejuaraan Provinsi di Mataram tahun 2015.

Diceritakannya, awal mula tertarik olahraga bela diri, didasari rasa penasaran saat duduk di bangku kelas VII SMP pada tahun 2012 lalu. “Saya mencoba mendaftar olahraga taekwondo yang kebetulan olahraga tersebut merupakan kegiatan ekstrakulikuler di sekolah saya,” katanya.

Setelah cukup lama berlatih, Fitri kemudian dipilih mengikuti seleksi untuk beberapa Kejurda dan provinsi untuk mewakili Kabupaten Bima. “Alhamdulillah saya berhasil  lolos dan menorehkan beberapa prestasi di cabang olahraga taekwondo,” katanya.

Sebelum kejuaraan tahun 2015, pada akhir tahun 2014, wanita cantik ini sempat fakum cukup lama karena sakit yang dideritanya. “Saya merasa  tidak enak hati jika harus kembali bergabung dengan atlet-atlet di Kabupaten (Bima). Tapi karena  rindu latihan, saya putuskan untuk mendaftar kembali olahraga taekwondo di Kota Bima, yang pada akhirnya saya mengikuti satu kali kejuaraan pada tahun 2015 untuk mewakili Kota Bima,” katanya.

Pada perjalanannya mencari jati diri menggeluti dunia beladiri, Fitri bertemu pelatih taekwondo Kota Bima, Sabeum Awan Darmawan yang menawarkan dirinya mengikuti latihan beladiri baru yang sedang digeluti pria tersebut, yaitu olahraga hapkido, yang sama-sama berasal dari negeri gingseng.

“Terdengar begitu asing, tetapi saya penasaran. Pelatih saya menjelaskan bahwa bela diri Hapkido merupakan seni bela diri asal Korea yang bergerak berdasarkan prinsip lingkaran dengan memanfaatkan tenaga lawan,” katanya.

Bermodal pengalaman saat menempa teknik taekwondo, Fitri dengan cepat menguasai teknik hapkiodo. Terbukti ia diutus mengikuti Kejurnas.

“Pelatih saya menambahkan bahwa,  jika kita sudah memiliki basic awal dari taekwondo, akan sangat mudah untuk menyesuaikan.Kkarena berasal dari negara yang sama sehingga bisa lebih mudah memahami dalam bentuk bahasa,” katanya.

Setelah berlatih selama satu tahun lebih dan mengikuti berbagai kejuaraan tingkat nasional. Fitri memahami potensi dan manfaat olahraga bela diri yang digelutinya. 

“Setelah berlatih selama satu tahun lebih, saya mengikuti kejuaraan tingkat nasional. Saya berfikir bahwa peluang di beladiri ini sangat besar bagi saya untuk berprestasi. Walaupun beladiri ini masih sangat baru yang secara resmi berdiri di Indonesia pada tahun 2014,” katanya.

Tantangan Berlatih Hapkido


Untuk meraih level seperti sekarang, adalah jalan yang tidak mudah bagi Fitri. Beberapa rintangan pernah ia hadapi, seperti kedua orang tuanya yang tidak mendukungnya karena masalah biaya. Hal itu berhubung Hapkido belum resmi masuk KONI, sehingga segala biaya akomodasi untuk mengikuti kejuaraan masih swadaya dan ditanggung masing-masing atlet, baik pendaftaran, transportasi, penginapan, dan segala biaya lainnya.

“Karena tekad yang kuat, saya mencoba menjelaskan kepada kedua orang tua saya dan mereka akhirnya mengerti. Berkat dukungan dan doa restu mereka pun, alhamdulillah saya bisa berhasil menambah prestasi selama tiga tahun menggeluti beladiri hapkido,” katanya.

Beberapa koleksi prestasi yang diraih Fitri yaitu Juara 3 Hyung Senior Beginner Woman- Kejuaraan Nasional 1 di Yogyakarta tahun 2016, Hyung Senior Beginner Woman, Kejurnas 2 di Yogyakarta tahun 2017, Juara 1 Hyung Senior Beginner Woman, Kejuaraan Nasional 3 di Jakarta tahun 2018, Juara 2 Hosinsul Senior Beginner Free Competition (berpasangan).

“Saat ini saya sedang menyiapkan diri untuk mengikuti Kejuaraan Nasional 4 di Semarang pada Oktober, sekaligus kejuaraan ini sebagai seleksi untuk ASIAN Hapkido Championship 2019 di Hongkong pada Desember mendatang,” katanya.

Wlaupun sudah fokus pada bela diri Hapkido, Fitri tidak pernah lupa dengan olahraga yang sudah membesarkan namanya. Ia juga tetap berlatih olahraga Taekwondo.

“Keduanya membuat saya justru lebih semangat, karena bela diri adalah sunnah Rasulullah SAW.  Saya merasa butuh sekali.  Awalnya saya sering mengalami kesulitan dalam membagi waktu latihan, TC, kuliah bahkan untuk mengerjakan tugas, saya terus belajar membagi waktu. Contohnya ketika harus latihan dan TC setiap hari sampai malam, tugas terpaksa saya harus kerjakan di kampus selagi saya bisa dan ada waktu luang,” katanya.

Fitri memiliki harapan ke depan pada olahraga tersebut. ia ingin terus berkarya dengan menjadi atlet, pelatih maupun wasit yang berprestasi.

“Saya ingin mengembangkan hapkido khususnya di NTB. Selain itu, bela diri di bidang ini juga bisa saya jadikan sebagai lapangan pekerjaan, karena memang benar adanya bahwa pekerjaan yang menyenangkan itu adalah hobi yang dijual,” pungkasnya. [RD]